Fresh Graduate, Bekerja atau Berwirausaha?

Mungkin rata-rata keinginan para mahasiswa selepas wisuda adalah segera memperoleh pekerjaan yang baik, pendapatan yang mapan dan strata sosial yang diakui lingkungan. Namun disisi lain kita pun menghadapi realita dimana lapangan kerja tidak sebanyak dan sebanding dengan fresh graduate yang ada. Maka menjadi wirausaha menjadi alternatif lain yang untuk karir kita. Akan tetapi mana yang harus kita prioritaskan, bekerja atau berwirausaha?

Harapan dan realita ini seringkali berbenturan dan menghasilkan permasalahan yang cukup pelik untuk diselesaikan, terutama oleh pemerintah kita. Ketersediaan lapangan kerja yang tidak sebanding dengan orang yang membutuhkannya, mengakibatkan gelombang pengangguran baru lahir setiap tahun. Akibat dari jumlah pengangguran yang membludak, akhirnya muncullah berbagi permasalahan seperti tindakan kriminal. Karena itu untuk menjawab persoalan ini kita harus membuka pikiran seluas mungkin.

Harapan dan Realita

Memang harapan pemerintah dari para lulusan baru khususnya sarjana, adalah menciptakan generasi wirausaha baru. Terlebih secara umum, posisi Indonesia sendiri yang baru memiliki kurang dari 2% wirausaha dari keseluruhan rakyatnya. Tentu hal ini sangat kurang, terutama dalam menyerap tenaga kerja yang tersedia.

Demi memuluskan program wirausaha ini, pemerintah pun mulai dengan segala upaya menciptakan berbagai peluang, pelatihan, bahkan perumusan kurikulum khusus wirausaha di kampus, sekolah atau bahan lembaga swasta. Yang tujuannya adalah menciptakan generasi wirausaha yang mempu menciptakan lapangan kerja.

Akan tetapi, nampaknya negara ini belum menunjukan hasil yang signifikan dari berbagai program tersebut. Setidaknya dalam beberapa tahun terakhir ini sampai tahun 2016 nanti saat kita tengah bersiap menghadapi pasar bebas ASEAN, kemampuan Indonesia masih sedikit dipertanyakan. Apakah pengusaha Indonesia mampu menghadapi gempuran pasar bebas ASEAN?

Disisi lain, paradigma di kalangan para sarjana pun tidak mengalami perubahan yang berarti. Memang dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa sarjana yang berhasil menjadi pengusaha sukses. Akan tetapi, di lapangan masih banyak yang mengejar pendidikan hanya demi ijazah dan memperoleh pekerjaan yang lebih layak.

Terlebih tuntutan di lapangan, baik itu dari keluarga dan lingkungan yang melihat jika strata sosial yang dipandang adalah posisi dan tempat ia bekerja. Sementara bagi para calon pengusaha, kita akan dinilai tidak lebih baik dari karyawan yang telah mapan.

Bekerja atau berwirausaha?

Nah bagi kamu yang bingung dengan pilihan antara bekerja atau berwirausaha, ada baiknya untuk memperhatikan hal-hal berikut.

1. Paradigma Karir

Menjadi wirausaha atau seorang karyawan masing-masing membutuhkan kesiapan mental yang kuat. Hal tersebut bisa di lihat dari kepribadian dan pendidikan yang selama ini kamu dapatkan. Perhatikan juga pandangan lingkungan sekitar, khususnya keluarga untuk mengukur sejauh mana tanggapan mereka atas pilihan karir yang akan kamu ambil.

Memang bukan berarti tanggapan dari lingkungan akan mempengaruhi kamu, akan tetapi ada baiknya kamu mempertimbangkan sejauh mana dukungan atau sanggahan yang mereka tunjukan untuk menjadi pertimbangan pilihan yang akan kamu ambil. Jika kamu memiliki pilihan yang berseberangan, komunikasikan dengan baik sehingga beban mental yang kamu emban tidak terlampau berat.

2. Rencana Karir dan Cita-cita

Mungkin ini adalah hal yang harus menjadi dasar, sejauh mana hubungannya dengan kesesuaian cita-cita yang selama ini kamu bangun. Perhatikan kualifikasi pendidikan, kemampuan, potensi dan kesempatan baik itu untuk membangun wirausaha ataupun menjadi karyawan.

Jika kamu memang bercita-cita menjadi pengusaha sejak awal, maka segera ambil langkah untuk tetap fokus dan melatih kemampuan di bidang tersebut. Misal, mulai dengan berjualan kecil-kecilan, membangun jaringan relasi, dan lain sebagainya. Pun sama halnya dengan yang bercita-cita menjadi seorang karyawan yang sukses kamu bisa pelajari hal-hal yang sekiranya bisa mendukung langkah kamu, seperti cara cepat memperoleh pekerjaan.

3. Pertimbangkan Kemampuan

Coba identifikasi kemampuan apa saja yang kamu miliki, pertimbangkan sejauh mana hal tersebut bisa mempengaruhi karir kamu. Menjadi seorang wirausahawan diperlukan kemampuan yang lebih banyak, terutama soft skill. Khususnya bagi kamu yang berminat menjadi seorang wirausahawan, sebaiknya kamu mulai dari sekarang sering mengikuti berbagai training dan komunitas pengusaha. Hal tersebut selain akan mengasah kemampuan dan mental, juga untuk membangun relasi yang lebih luas.

4. Percaya jika rezeki di tentukan oleh Allah

Terakhir, tanamkanlah keyakinan jika apapun karir yang kamu geluti yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Siapapun kamu dan menjadi apapun yang kamu inginkan, tetap dahulukan pertimbangan sejauh mana hal tersebut bisa mendekatkan diri kepada Allah.

Memang menjadi pengusaha adalah sunnah, bahkan hadis pun menyebutkan jika 9 dari 10 pintu rezeki ada di berdagang. Akan tetapi ingat juga, jika ancaman neraka pun ada bagi para pengusaha yang berbohong dan tidak adil dalam menentukan timbangan. Intinya menjadi seorang pengusaha yang bertaqwa adalah suatu hal yang sangat ideal sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, dan hal tersebut harus di sertai dengan ilmu yang memadai.

Semoga penjelasan sederhana ini bisa memberikan inspirasi terkait karir yang ingin kamu pilih.

Reply